Sehari Satu Dongeng | Petualangan Peri Petty
Petualangan Peri Petty
Penulis: Atik Setyowati
Ilustrator: Octaviaayoe
Suasana kampung Peri pagi itu begitu ceria. Warga peri sangat bersuka cita. Mereka bersiap menyambut musim hujan yang menyegarkan. Namun, tidak dengan Peri Petty, dia tampak murung. Dia duduk dengan sedih menatap ibunya yang sakit. Sudah sebulan, ibunya terbaring di atas tempat tidur. Semua tabib di kampung Peri sudah dia hubungi. Namun, keadaan ibunya belum juga membaik.
Peri Petty bertanya kepada Peri Nusi yang sangat jenius. Selain jenius, Peri Nusi juga terkenal memiliki banyak kawan yang juga pintar.
“Hai, Peri Nusi! Apa yang harus aku lakukan agar ibuku sembuh? Semua tabib di kampung peri ini sudah pernah aku datangi,” ucap Peri Petty.
“Pergilah ke gua cahaya di tengah hutan. Di sana, kamu akan bertemu dengan Peri Topu. Dia sangat ahli dalam hal pengobatan,” nasihat Peri Nusi.Peri Petty bergegas menuju tengah hutan. Dia tidak peduli malam akan segera datang. Dia pun tak menghiraukan gelegar petir yang menyambar. Akhirnya, Peri Petty berhasil sampai di gua cahaya. Dia segera memasuki gua dan menyampaikan maksudnya.
“Wahai, Peri Topu! Berilah aku obat yang manjur untuk ibuku,” ucap Peri Petty memohon.
“Alam telah menyediakan obatnya. Bawakan aku benda-benda ciptaan Tuhan. Hanya dengan itu, aku baru bisa meramu obat untuk ibumu,” perintah Peri Topu.
“Benda ciptaan Tuhan? Apakah itu, wahai, Peri Topu?” tanya Peri Petty penasaran.
Peri Topu tidak menjawabnya. Peri Petty pulang sambil terus memikirkan pesan Peri Topu.
Keesokan harinya, Peri Petty pergi ke kios serba ada. Di sana, dia membeli sekarung macam-macam benda. Dia menyeret karung dengan susah payah.
“Wah, belanjaanmu banyak sekali! Sini aku bantu!” ucap Peri Nusi yang kebetulan lewat.
“Omong-omong, untuk apa kamu belanja sebanyak ini?”
“Peri Topu memintaku membawa benda-benda ciptaan Tuhan untuk membuat ramuan obat. Aku tak tahu mana yang ciptaan Tuhan, maka aku borong semua benda ini,” jelas Peri Petty.
Peri Nusi membuka karung milik Peri Petty.
“Oh, bukan! Bukan ini ciptaan Tuhan. Ini semua benda buatan bangsa peri. Bukan ciptaan Tuhan,” kata Peri Nusi sambil mengeluarkan satu per satu benda dari dalam karung.
“Cangkir, piring, sendok, pigura, vas bunga, boneka ... ini semua buatan peri.”
“Jadi, ini bukan ciptaan Tuhan?” Peri Petty mengernyit bingung.
“Coba kamu pikirkan benda yang bangsa peri tidak sanggup membuatnya,” jelas Peri Nusi.Peri Petty tampak berusaha keras berpikir.
“Ah, hujan ... air! Para peri tidak bisa membuat air. Jika air sungai kering, mereka kebingungan mencari sumber air lain,” tebak Peri Petty girang.
“Tepat sekali! Selain itu, apa lagi?”
Peri Petty tampak berpikir lagi, lalu tersenyum dan bergegas pergi.
“Terima kasih, Peri Nusi!” teriaknya sambil terbang meninggalkan Peri Nusi.Peri Petty pergi ke sungai untuk mengambil air. Namun, tiba-tiba, dia terkena cipratan air. Air yang mengalir deras menghantam bebatuan di depannya. Cipratannya membuat sayap Peri Petty menjadi kuyup. Dia menjadi lemah dan tidak bisa terbang sebelum sayapnya kering.
Peri Petty berdiri di pinggir sungai. Tangannya menggapai air yang mengalir deras di depannya. Ups! Dia hampir terpeleset. Untung dia sempat berpegangan pada akar pepohonan. Setelah berusaha cukup keras, akhirnya sebotol air berhasil diambilnya.
Di tepi sungai, Peri Petty hendak mengambil sebongkah batu hitam.Batu itu sangatlah berat.
“Aku akan berjalan dan ikut denganmu, tapi ada syaratnya,” ucap batu hitam itu tiba-tiba. “Ceritakan kepada bangsa peri agar membangun rumah dengan menggunakan teman- temanku. Mereka sangat senang jika berguna,” lanjutnya.
Peri Petty mengangguk menyetujui syarat batu hitam itu. Batu hitam pun mengikuti ke mana pun Peri Petty pergi.Peri Petty terbang ke pucuk pohon. Dia hendak memetik daun-daunnya. Tiba-tiba ... plak! Sebuah hantaman kuat mengenai tubuhnya.
“Jangan petik daunku!” geram pohon itu marah.
“Sudilah engkau berbagi sedikit daunmu, wahai, Pohon. Aku sangat membutuhkannya untuk obat ibuku,” pinta Peri Petty mengiba.
Mendengar cerita Peri Petty, pohon itu pun mengizinkannya memetik beberapa daun. Dia juga menghadiahkan beberapa buahnya untuk ibu Peri Petty.
Peri Petty terbang lebih tinggi ke langit. Di sana, dia bertemu pelangi. Dia meminta pelangi ikut dengannya untuk membantu pengobatan ibunya. Pelangi yang baik hati dengan senang menolong Peri Petty. Setelah itu, Peri Petty terbang ke tengah hutan untuk menemui Peri Topu. Dia berpapasan dengan seekor burung. Dia pun menggandeng sayap burung agar terbang bersamanya.
“Wahai, Peri Topu! Aku sudah membawa benda-benda ciptaan Tuhan yang kamu minta. Tolong buatkan ramuan obat untuk ibuku,” pinta Peri Petty, setelah tiba di gua cahaya dan bertemu Peri Topu.
“Keluarkan benda-benda itu!” perintah Peri Topu.
Peri Petty segera mengeluarkan air, batu, pelangi, daun-daun, buah-buahan, dan burung. Peri Topu menumbuk daun-daun dengan batu. Daun yang sudah lumat ditambahkan air dan dimasukkan ke gulungan pelangi. Kedua ujung pelangi kemudian dipuntir. Jadilah ramuan permen pelangi yang sangat manjur. Buah-buahan diambil dagingnya, sedangkan biji-bijinya harus ditanam di sekitar rumah. Burung harus dilepas dan dibiarkan terbang bebas.
“Bawalah pulang ramuan permen pelangi ini. Daging buah harus dimakan setiap pagi dan sore. Biarkanlah burung ini terbang bebas dan taburlah benih buah ini di sekitar rumahmu,” begitu pesan Peri Topu.
Peri Petty mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada Peri Topu.
Sesampai di rumah, Peri Petty segera memberikan ramuan permen pelangi kepada ibunya. Tak lupa, dia menanam biji-biji di sekitar rumah dan melepaskan burung yang kemarin ditangkapnya. Peri Petty juga rutin mengingatkan ibunya agar memakan buah.
Benih yang ditanam Peri Petty pun mulai tumbuh, tumbuh, dan tumbuh. Bersamaan dengan itu, kesehatan ibu Peri Petty berangsur pulih. Pohon-pohon buah yang rindang menghadirkan kesejukan. Burung yang dahulu dilepaskan Peri Petty bersarang di pepohonan itu dan berkicau setiap pagi.
Ibu Peri Petty sangat menyukai udara segar dan nyanyian burung di sekitar rumahnya. Kini, dia sudah bisa beraktivitas seperti sediakala. Peri Petty sangat bahagia melihat ibunya kembali sehat. Dia pun mengucap syukur kepada Tuhan yang menciptakan alam yang indah dan banyak manfaat.
Sumber : https://cerdasberkarakter

Komentar
Posting Komentar